INFO Tanahmerah — 244 Bencana Terjadi di Kabupaten Bogor Selama Agustus 2025, 5 Orang Tewas Agustus 2025 menjadi bulan penuh duka dan peringatan serius bagi Kabupaten Bogor. Dalam waktu hanya 31 hari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 244 kejadian bencana, mulai dari angin kencang, tanah longsor, banjir, hingga longsor tempat pembuangan sampah. Tak kurang dari 5 orang dilaporkan meninggal dunia, dengan ratusan lainnya terdampak secara langsung maupun tidak langsung.
Laporan ini menegaskan bahwa wilayah Kabupaten Bogor kini bukan hanya berstatus rawan bencana, tetapi telah masuk fase krisis iklim dan manajemen lingkungan yang harus ditangani secara menyeluruh.
Baca Juga: Pegunungan Papua dengan Sentuhan Modern Jembatan Trans Papua Akan Hiasi Motif Honai
1. Jenis-Jenis Bencana yang Terjadi: Dominasi Angin Kencang dan Longsor
Dari 244 kejadian tersebut, BPBD menyebut angin kencang dan tanah longsor sebagai dua penyebab paling dominan. Angin kencang tercatat menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah, pohon tumbang, dan jaringan listrik terputus di berbagai kecamatan.
Sementara itu, tanah longsor sering terjadi di daerah perbukitan seperti Megamendung, Cisarua, dan Tamansari—wilayah yang secara geografis memang rentan karena lereng curam dan hujan intensitas tinggi yang kerap mengguyur tanpa henti.
BPBD menyebutkan bahwa curah hujan yang tinggi selama Agustus adalah salah satu faktor utama, diperparah oleh lemahnya pengelolaan lingkungan seperti alih fungsi lahan dan pembangunan tanpa perencanaan mitigasi risiko.
2. Tragedi TPAS Galuga: Longsoran Sampah Tewaskan Operator Alat Berat
Salah satu bencana paling mencolok dan tragis terjadi pada 11 Agustus 2025 di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga. Sebuah gunungan sampah setinggi puluhan meter longsor dan menimpa seorang operator alat berat bernama Agus Hari Mulyana (49). Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka parah di bagian dada dan kepala.
Kejadian ini bukan sekadar insiden kerja. Banyak pihak menyebutnya sebagai alarm bahaya pengelolaan sampah di Bogor. TPAS Galuga saat ini menampung lebih dari 900 ton sampah per hari, melebihi kapasitas normal. Dalam beberapa pekan sebelum kejadian, warga dan pekerja sudah mengeluhkan kondisi tumpukan sampah yang tidak stabil dan bau menyengat.
Wali Kota dan Bupati Bogor pun saling memberi pernyataan tanggung jawab, mengingat TPAS ini dikelola secara lintas wilayah antara Kota dan Kabupaten Bogor. Beberapa aktivis lingkungan bahkan menyebut kejadian ini sebagai “tragedi yang bisa dicegah”, bila sistem pengelolaan limbah padat lebih transparan dan berkelanjutan.
3. Korban Jiwa Lainnya: Terseret Arus hingga Bocah Tenggelam
Selain tragedi di TPAS Galuga, empat korban jiwa lainnya berasal dari kejadian alam:
a. Lansia Terseret Arus di Megamendung
Pada 4 Agustus 2025, seorang pria lanjut usia bernama Dani (75) meninggal dunia setelah terseret arus sungai di Desa Sukamaju, Kecamatan Megamendung. Saat itu korban hendak mengungsi bersama keluarga karena hujan deras, namun terpeleset dan jatuh ke dalam aliran deras.
b. Bocah Hanyut di Ciliwung
Kejadian ini mengguncang warga setempat dan menimbulkan kritik pada kurangnya pengawasan dan penataan zona aman di bantaran sungai.
c. Korban Longsor Lain di Cisarua
Ia sedang berada di kebun saat hujan deras melanda, dan tanah dari tebing longsor menghantam lokasi tersebut. Proses evakuasi berlangsung cukup sulit karena akses jalan yang terputus.
4. Dampak Sosial dan Ekonomi: Ribuan Warga Terdampak
Akumulasi dari bencana-bencana tersebut bukan hanya soal jumlah korban jiwa, tapi juga menyisakan kerusakan infrastruktur, trauma psikologis, dan kerugian ekonomi:
-
Ratusan rumah rusak, mulai dari ringan hingga berat.
-
Puluhan akses jalan desa tertutup tanah dan pohon tumbang.
-
Aktivitas sekolah terganggu karena bangunan rusak dan banjir.
-
Ribuan warga kehilangan penghasilan harian, terutama yang bekerja di sektor informal.
-
Puluhan kepala keluarga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan darurat, dengan kondisi fasilitas yang sangat terbatas.
5. Reaksi dan Respons Pemerintah
a. BPBD dan BNPB Terus Lakukan Penanganan
BPBD Kabupaten Bogor, bersama BNPB, terus melakukan mitigasi dan penanganan lapangan.
b. Imbauan Kesiapsiagaan
Pemerintah meminta masyarakat agar:
-
Mewaspadai tanda-tanda longsor seperti retakan tanah dan suara gemuruh.
-
Tidak tinggal di rumah yang terlalu dekat tebing atau aliran sungai saat musim hujan.
-
Segera melapor jika ada kejadian pohon tumbang, jalan retak, atau air meluap.
6. Arah Kebijakan dan Harapan Publik
Tragedi selama Agustus 2025 ini harus menjadi momen refleksi besar. Tidak hanya bagi pemerintah daerah, tapi juga masyarakat, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan.
-
Penyusunan ulang peta zonasi rawan bencana di seluruh kecamatan.
-
Moratorium pembangunan di daerah lereng curam dan bantaran sungai.
-
Reformasi manajemen sampah perkotaan, terutama menyangkut keberadaan dan kapasitas TPAS Galuga.
-
Pendidikan kebencanaan di sekolah dan masyarakat akar rumput.
Penutup: Saatnya Bangun Ketahanan Iklim Lokal
Apa yang terjadi di Kabupaten Bogor selama Agustus 2025 adalah gambaran nyata bahwa kita sedang berada di tengah krisis perubahan iklim dan krisis tata kelola. 244 kejadian bencana dan 5 korban jiwa bukan sekadar statistik—melainkan peringatan keras bahwa tanpa upaya kolektif, bencana akan menjadi bagian dari keseharian kita.
Kini saatnya membangun ketahanan iklim lokal, dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan memperkuat sistem peringatan dini, manajemen lingkungan, serta penguatan peran pemerintah daerah dalam penanganan darurat.
















